Fara 1: Masturbasi di Becak



Perkenalkan, namaku Fara. Seorang cewek asli jawa dengan kulit putih dan rambut lurus panjang sepunggung. Aku memiliki tubuh proporsional namun terbilang cukup tinggi untuk ukuran cewek serta memiliki ukuran payudara yang proporsional juga dengan tubuhku yaitu 34B. Disini aku akan mencoba menceritakan pengalamanku yang mungkin bisa disebut eksibisionis.

Sejak pertama kali melakukan masturbasi saat kelas 3 SMP, aku menjadi semacam maniak dengan kegiatan tersebut. Aku tak bisa lepas dengan yang namanya masturbasi. Dan menjadikan masturbasi sebagai kebutuhan hidup layaknya makan dan minum.

Sebagian besar cewek pasti pernah melakukan masturbasi, tapi mungkin cuma sedikit yang sesering aku. Yang aneh pada diriku adalah aku sering banget merasa "pengen" yang terkadang tanpa alasan yang mendasarinya. Rasa ingin masturbasi timbul begitu saja dan mau tidak mau aku harus menuntaskannya pada saat itu juga. Karena jika tidak dituntaskan, aku akan tidak konsen dengan apa yang sedang aku lakukan saat itu.

Di tulisan pertamaku ini, aku akan menceritakan pengalaman pertamaku melakukan masturbasi di luar ruangan. Selamat membaca.

***

Saat itu, kotaku sedang diguyur hujan lebat. Waktu itu aku sedang duduk sendiri di depan pos satpam sekolah. Saat semua temanku sudah pulang ke rumah masing-masing, aku masih menunggu jemputanku. Bukan jemputan mobil oleh sopir pribadi maupun jemputan motor oleh pacar, melainkan jemputan becak. Tukang becak yang kutunggu ini adalah suami dari pembantuku, yang biasa aku panggil Pakdhe. Bukan karena dia kakak dari ayahku/ibuku, tapi memang orang-orang biasa memanggilnya pakdhe. Beliau memang sudah biasa menjemputku ke sekolah jika aku tidak membawa motor maticku sendiri.


Sebenarnya jarak rumahku dengan sekolahku cukup jauh. Ada rasa nggak enak juga waktu aku minta dijemput oleh pakdhe. Tapi kata beliau gak apa-apa, soalnya tempat dia mangkal cukup dekat dengan sekolahku.

Setengah jam lebih aku menunggu pakdhe. Hujan masih saja lebat, dan aku mulai kedinginan. Waktu itu aku lagi gak bawa jaket. Apalagi aku tidak memakai kaos dalam buat merangkap bajuku. Jadi waktu itu aku cuma memakai bra yang langsung dibungkus dengan baju OSIS. Bra yang kukenakan berwarna putih, jadi tak terlalu mencolok menurutku jika langsung dirangkap baju OSIS yang terbilang tipis.

Efek dari dingin saat itu adalah timbulnya rasa "pengen" yang tiba-tiba. Aku merasa daerah selangkanganku mulai hangat. Aku gelisah, aku melipat kakiku dengan harapan meredam rasa "pengen" itu. Tapi hal tersebut malah membuatnya semakin buruk.

Ingin rasanya aku menaikkan rokku, melorotkan celana dalamku, dan langsung mengelus-elus memiawaku. Tapi aku sadar, aku masih di tempat umum. Aku semakin gelisah, keringat dingin mulai keluar dari tubuhku. Sempat berpikir untuk pergi ke toilet sekolah buat melampiaskan rasa "pengen"ku, tapi hal tersebut tidak sampai terjadi karena pakdhe sudah datang dengan becaknya.

Dengan jas hujan plastik warna merah, beliau menghentikan becaknya tepat di depanku. Karena tempat ini memang spot yang biasa aku gunakan buat menunggu jemputan, jadi beliau sudah hafal. Dengan menyeka air yang membasahi mukanya, dengan ramah dia menyapaku.


"Maaf ya dek fara, tadi ban becaknya bocor pas baru keluar dari pasar" ucapnya dengan ngos-ngosan.

Oya, perlu diketahui, bahwa semua orang di rumah memanggilku "dek". Karena aku memang anak paling kecil di rumah, dan panggilan "dek" memang sudah melekat sejak aku masih kecil. Dan meski aku sudah "gede" sekarang, mereka tetap memanggilku "dek".

"Ohh.. Gakpapa kok pakdhe, aku juga baru keluar kelas" jawabku dengan tetap berusaha tersenyum meski dibalik kegelisahanku.

"Yuk langsung aja dek." ajaknya.

"Pakdhe gak istirahat dulu? Masih ngos-ngosan gitu..." rasa kasihanku keluar melihatnya kecapekan.

"Gakpapa, nanti sambil pelan-pelan aja. Kasihan dek fara udah mulai kedinginan" katanya.

"Yaudah, tapi nanti kalo pakdhe capek, berhenti dulu aja gakpapa kok" kataku dengan tetap mencoba tersenyum.

Aku pun menaiki becak pakdhe.

Becak ini selayaknya becak pada umumnya. Cuma karena waktu itu hujan, jadi bagian depan becak tersebut ditutup dengan semacam plastik yang tebal agar penumpangnya tidak basah terkena air hujan. Plastik penutup ini sudah mulai kusam, apalagi ditambah dengan derasnya air yang mengalir dari atap becak, membuat aku tidak bisa memandang keluar dengan jelas kecuali lewat samping. Dan pastinya orang luar juga tidak bisa melihatku dengan jelas dari luar becak.


Kembali ke kegelisahanku tadi. Kegelisahanku berlanjut di dalam becak. Aku mencoba untuk menjepit tanganku diantara pahaku lewat luar rokku dan berharap agar cepat sampai rumah. Tapi hal tersebut tidak membantu. Malah yang kurasakan adalah memiawku mulai basah dan membasahi celana dalamku.

Aku sudah tidak tahan lagi. Ingin rasanya kutuntaskan saat itu juga. Aku mulai melihat keadaan sekitar. Dari depan, orang luar akan kesulitan buat melihat kedalam. Dari samping, orang hanya akan melihat tubuh bagian atasku. Dan dari belakang, pakdhe tidak bisa melihat ke dalam karena memang atap bagian belakang sudah ditutup agar air gak masuk.

Dengan keadaan yang kurasa aman, aku nekat untuk masturbasi saat itu juga. Sebuah pengalaman pertama untuk melakukan masturbasi di luar ruangan. Biasanya aku hanya melakukannya di kamar tidur maupun kamar mandi saja.

Aku sedikit membuka pahaku dan menaikkan rokku. Kumasukkan tangan kananku ke dalam rokku, dan memulai mengelus-elus celana dalamku yang sudah basah. Lalu kujepit tanganku dengan kedua pahaku, yang semakin membuat jari-jariku menekan memiawku.

"Ah..ah..." rintihan lirih keluar dari mulutku seiring dengan jariku. Kucoba untuk menggigit bibir bawahku agar meredam rintihanku yang semakin meracau. Juga kupejamkan mata untuk semakin menghayati kenikmatan ini.


Meski sudah bisa merasakan kenikmatan, aku masih belum puas dengan hanya mengelus dari luar celana dalam. Maka, kenekatanku pun naik tingkat ke level selanjutnya.

Kembali aku mengecek keadaan sekitar. Kulihat perjalananku sudah memasuki jalan perkampungan dimana sisi kiri dan kanan jalan hanya berupa hamparan sawah. Meski sudah memasuki jalan perkampungan, tapi perjalananku belum memasuki setengah jalan.

Merasa keadaan sudah sangat aman karena di jalan juga jarang yang lewat, maka dengan tanpa ragu aku naikkan rok abu-abuku sampai ke pinggang. Memperlihatkan paha putih dan daerah selangkangan yang tertutup celana dalam. Dan langsung saja aku melepas celana dalamku, dan memegangnya dengan tangan kiri. Kulebarkan kedua paha hingga kedua lututku menyentuh dinding becak, serta posisi dudukku yang agak melorot. Kini memiawku yang sudah basah oleh lendir kewanitaan dan ditutupi oleh rambut kemaluan yang tidak terlalu lebat sudah terpampang jelas. Ini pertama kalinya memiawku terbuka di luar ruangan.

Kugunakan celana dalamku untuk mengelap cairan memiawku, karena aku gak ingin cairan memiawku membasahi jok becak. Dan kembali tangan kananku melakukan pekerjaannya di memiawku. Kenimatan ini semakin berlanjut, dan aku mulai merasa lupa jika aku sedang berada di atas becak.


Ku taruh celana dalamku, dan menggunakan tangan kiriku untuk meremas payudaraku dari luar baju. Payudaraku sudah terasa keras sekali waktu itu. Tidak hanya sampai disitu, kubuka 2 kancing paling atas dari bajuku, lalu aku coba singkapkan braku keatas. Bahkan karena aku menyingkapkannya agak memaksa, membuat pengait yang berada di punggungku terlepas. Setelah tersingkap, maka ku keluarkan payudara sebelah kananku.

Kini sudah terlihat payudaraku yang masih padat dan puting mungil berwarna coklat muda yang kala itu terlihat mengacung keras pertanda diriku yang sedang dilanda nafsu. Ini juga pengalaman pertama buat payudaraku yang terbuka di luar ruangan.

Kembali ku remas payudaraku yang terbuka tersebut dengan sesekali memlintir putingnya. Ini semakin menambah kenikmatan yang aku terima waktu itu, hingga tersadar kalau aku sudah sampai di depan rumah. Ah sial, padahal aku belum mencapai orgasmeku.

Dengan bergegas kumasukkan celana dalamku ke tas, aku rapikan lagi rokku dan hanya sempat mengancingkan 1 kancing bajuku. Padahal braku masih tersingkap dangan kait yang lepas. Tapi aku berhasil menutup bagian depan tubuhku dengan tas sebelum pakdhe membuka plastik penutup becak.

Dengan bergegas, aku turun, mengucapkan terima kasih sama pakdhe, dan berlari kecil masuk ke rumahku. Ibuku sudah menyambutku di ruang keluarga.


"Halo cantik? Kehujanan ya? Kok buru-buru amat?" tanya mamaku.

"Maaf mah, adek kebelet pipis" jawabku asal sambil berlari menuju kamarku di lantai 2.

"Hati-hati! Ntar kepleset lho!"

"Iya mah!" jawabku.

Sampainya di kamar, langsung ku kunci pintu. Kulempar tasku, dan dengan buru-buru ku lepas baju dan braku. Kembali kuangkat rokku, yang kali ini sampai ke perut. Dan langsung memasang posisi mengangkang lebar di tempat tidurku. Bahkan aku belum melepas sepatuku.

Kembali aku lanjutkan masturbasiku. Dan tak butuh waktu lama, kudapatkan orgasmeku. Badanku mengejang, kututup mukaku dengan bantal agar meredam rintihanku, serta memiawku yang semakin mengeluarkan cairan yang banyak sekali.

Kunikmati momen demi momen orgasmeku ini. Dengan sepatu yang masih melekat di kaki, kaki yang masih mengangkang, rok yang berada di perut, keringat dingin yang semakin bercururan, bed cover yang kusut, serta dadaku yang naik turun seiring dengan nafas memburu paska orgasme


Setelah semuanya reda, aku bangkit dari tempat tidurku. Kulepaskan kedua sepatu beserta kaos kakinya, dan rok kusut yang masih 'nyangkut' di perut. Kutatap tubuh telanjangku di depan cermin. Aku tersenyum sendiri mengingat apa yang baru aku lakukan. Sebuah pengalaman yang sulit dilupakan. Ingin rasanya untuk mengulangnya lagi jika ada kesempatan lain.

***

Demikianlah pengalamanku pertama kali merasakan masturbasi di luar ruangan. Tentu ini bukan satu-satunya pengalamanku. Masih ada banyak pengalaman tentang kebiasaanku ini. Jadi, sampai jumpa lagi di ceritaku yang lain. Terima kasih sudah membaca.

Disclaimer

Setiap foto dalam cerita hanya sebagai ilustrasi saja dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita pada blog ini. Jika kamu merasa keberatan, dan ingin foto kamu / foto temanmu / foto keluargamu dihapus dari blog ini, silahkan hubungi admin di cewekeksib@gmail.com

4 komentar: